HNP (HERNIA NUKLEUS PULPOSUS) BERAKHIR DI MEJA OPERASI

Jumat, 28 Juni 2019

HNP (HERNIA NUKLEUS PULPOSUS) BERAKHIR DI MEJA OPERASI





Assalamualaikum,

Sebelumnya cerita ini adalah kelanjutan dari cerita saya yang pertama. Saya cantumkan link supaya tidak setengah setengah untuk membancanya https://fidyaokta.blogspot.com/2019/02/hernia-nukleus-pulposus-hnp.htmlDisini saya akan menceritakan kenapa saya sampai harus di operasi.

Kira kira setelah 2 bulan saya fisioterapi, sakit itu tidak kunjung sembuh, malah semakin parah menurut saya. Gejala yang semakin parah adalah apabila saya berjalan kurang dari 500 meter tiba tiba kaki bagian paha kiri terasa seperti terbakar (panas), lemas atau tidak ada kekuatan dan itu terus menerus jika saya berjalan atau tidur terlentang. Jadi alternatif saya untuk menahan sakit adalah tidak berjalan dan tidur dengan posisi bayi dalam kandungan.

Semakin sakit dan semakin panik akhirnya saya mendapat rujukan ke RSUD Dr Soetomo bagian poli syaraf. Karena saya menggunkan BPJS kelas 3, saya harus pagi pagi buta sekali pergi ke Surabaya untuk mendapat nomor antrian. Jika terlambat sedikit saja maka akan mendapat nomor antrian diatas 600.

Saya akhirnya sadar setelah berada di RSUD Dr Soetomo bahwa saya tidak sendiri, banyak balita, anak anak, orang dewasa, bahkan orang tua sekalipun yang mendapat cobaan sakit yang bermacam macam. Seketika itu pula hati saya merasa iba dan sedikit bersyukur bisa melihat dan menyaksikan sendiri perjuangan mereka yang sedang berjuang untuk sembuh.

Setelah mendapat nomor antrian dan pergi ke loket akhirnya kami (saya pergi ke rumah sakit dengan kakak saya) menuju poli saraf. Setelah di cek dengan mendetail akhirnya saya mendapat rekomendasi untuk melakukan test Elektromiografi atau yang biasa disebut EMG (https://en.wikipedia.org/wiki/Electromyography).


Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi


Hari berikutnya saya kembali ke Surabaya untuk melakukan tes EMG. Kenapa tidak pada saat itu saya tes EMG karena saya menggunakan BPJS kelas 3 jadi saya harus kembali di hari berikutnya. Setelah rangkaian tes selesai, akhirnya saya pulang dan untuk mengambil hasil tes akan di telepon dari pihak rumah sakit.

Kurang lebih satu minggu saya menuggu hasil akhirnya saya kembali ke rumah sakit dengan kakak saya. Saya kembali ke poli saraf dan ternyata hasilnya saraf tulang belakang saya bagian L5-S1 mengalami iritasi. Tidak sampai disitu akhirnya dokter poli saraf merekomendasikan lagi untuk melakukan tes Magnetic Resonance Imaging atau  MRI (https://www.alodokter.com/mri-dapat-membantu-identifikasi-penyakit).


Gambar ilustrasi

Hasil MRI 

Untuk melaksanakan tes MRI saya harus mendapat jadwal pelaksanaan, kira kira 3 hari saja saya menunggu. Sebelum melakukan tes, dokter bertanya dulu apakah saya mempunyai gigi palsu, memakai behel, memakai perhiasan atau memiliki pen di dalam tubuh saya. Karena itu semua harus di lepas sebelum MRI dilaksanakan.

Satu minggu saya kembali berkonsultasi ke poli saraf dan tentunya sudah mendapatkan hasil MRI, alangkah terkejutnya dokter mengetahui hasilnya bahwa bagian L5-S1 di tulang belakang saya mengalami penonjolan yang menyebabkan saraf saya terjepit. Dan saat itu juga dokter menvonis saya mengalami Hernia Nukleus Pulposus atau HNP. Pada waktu itu juga dokter memberi rujukan ke poli ortophaedi agar segera mendapat tindakan. Tapi tidak semudah itu saya akan melaksanakan tindakan, karena saya dan keluarga tidak menyetujui jalan tindakan tersebut.

Setelah mengetahui bahwa saya mengalami saraf terjepit, saya mencoba alternatif lain selain tindakan yaitu terapi akupunktur, pijat tradisional (ini memperparah), segala macam jenis terapi saya coba tapi sakit ini semakin  menjadi jadi. Yang awalnya hanya panas seperti terbakar akhirnya setiap malam saya tidak bisa tidur.

Akhirnya saya dan keluarga pasrah, jika dengan jalan operasi akan menyelesaikan masalah tersebut. Setelah menyetujui untuk proses tindakan, akhirnya saya menunggu untuk di panggil. Karena saya menggunakan BPJS kelas 3 jadi kira kira kurang lebih 3 bulan saya menunggu panggilan dari rumah sakit.

Tanggal 6 Mei 2019, tepat satu hari puasa saya berangkat ke rumah sakit untuk ngamar. Setelah 8 hari saya menunggu pada tanggal 13 Mei 2019 akhirnya saya mendapatkan tindakan tersebut tanpa pemasangan pen. Tidak lebih dari 12 hari saya berada di rumah sakit akhirnya saya diperbolehkan pulang.

Dan alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah Subhanahuwata'ala saya diberi kesembuhan, saya bisa tidur nyenyak, saya tidak merasakan sakit, kaki saya sudah bisa berjalan dengan radius sangat jauh. Dan sekarang masih tahap pemulihan, diantaranya tidak boleh membungkuk selama 3 bulan, saat berak tidak diperbolehkan mengejan terlalu keras karena dikhawatirkan tonjolan itu akan keluar lagi, dan selama 3 bulan itu saya tidak boleh lepas korset khusus tulang belakang. Sampai sekarang saya hanya merasakan sakit pada bagian jahitannya saja. Karena belum pulih 100%.

FYI : Untuk kontrol dan tahapan melakukan tes EMG, MRI, kamar pasien dan proses tindakan, saya tidak mengeluarkan biaya sepeserpun karena saya menggunakan BPJS.

0 komentar :

Posting Komentar